aku berharap ada satu hariku yang penuh dengan kebahagiaan, satu saja. tapi itu belum pernah terjadi. hariku selalu penuh dengan kekesalan.
seperti hari ini.
"mm.. aku Steve Robins, dari Beverly Hills, Amerika. Aku pindah ke sini karena ayahku sedang dinas. Mungkin aku 1-2 tahun disini, tapi aku berharap lebih lama. Sepertinya kota ini menyenangkan." Katanya sambil tersenyum, well, kaku.
oh ya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Emerald Glory Destiny. Emma. Nyambung tidak? tidak menurutku.
aku lahir di sini, di London, tanggal 14 September. Sekarang, aku kelas 2 di School Of a National Grade High, London. aku punya kakak bernama "Cheryl". Lengkapnya, Amilia Cheryl Destiny.
oke, back to story.
Mr. Fibbish, wali kelasku sekaligus guru aljabarku, menyuruh si Steve tadi duduk di sebelahku. Merasa perlu memperkenalkan diri, aku membuka mulutku,"hai. aku Emerald Destiny. Emma." kataku, berharap tidak akan merasa bodoh karena ini.
Dia tersenyum. Bukan senyum kaku seperti yang kulihat di depan, tapi senyum yang,(walaupun aku tidak tahu tentang jenis-jenis senyum) BENAR-BENAR SINIS!!
eehh... sudah baik-baik aku tersenyum manis dam memperkenalkan diri dengan ramah, aku malah diberi senyum sinis menyebalkan!
Tidak perlu lama-lama bermanis-manis di depannya(well, secara teknis, di sampingnya), aku berbalik, menatap atas mejaku, dan mendengus kesal. Aku semakin kesal ketika Mr. Fibbish, pada akhir pelajaran, memberi kami PR aljabar sebanyak 30 soal yang benar-benar sulit! dan aku SEMAKIN-SEMAKIN kesal ketika menatap makan siangku. Kaserol daging! uuh.. aku benci kaserol daging... aku lebih baik hanya makan timun seharian daripada makan kaserol daging. Setidaknya menurutku timun lebih sehat.
Dan puncak kekesalanku adalah, ketika tahu bahwa kelas-kelasnya sama denganku! aku mengambil kelas aljabar, biologi, olahraga, drama, tata bahasa, chemical, fisika, dan geometri, dan DIA pun sama!! itu membuat wajahku merah seperti kepiting rebus, menahan marah.
"hore!" sorakku diam-diam saat bel pulang berbunyi.
"Emm?" terdengar satu suara yang sangat kukenal di belakangku. Jenny. Sahabatku.
"hmm..?"
"aku tadi melihatmu. mukamu sepanjang pelajaran geometri tadi seperti kepiting rebus. sebenarnya ada apa??"
"hh!! aku sebal sekalii.............. begini, yaaa..........." aku menceritakan kejadian tadi pagi pada Jenny selama perjalanan di bus sekolah. Setelah aku selesai bercerita, dia tertawa. TERTAWA??
aku berdecak kesal. "kenapa aku ditertawakan?" tuntutku.
"oh.. haha.. Emma.. Emma. Kau tahu tidak sih, setiap hari kau menceritakan semua kekesalanmu padaku, tapi biasanya kekesalanmu yang biasa tidak menjadikanmu seperti kepiting rebus. kurasa.. kekesalanmu kali ini spesial, ya?"
mataku membeliak, dan aku merasa wajahku sedikit merona merah.
"spesial? orang kayak gitu spesial?? bercanda, ya??"
"nggak."
"Jenny....!!!!!" seruku sembari memukul tangannya. Jenny meringis kesakitan. Untunglah, saat aku memukulnya untuk yang ke-berapa kalinya (nggak dihitung, sih) bus berhenti di perhentian Oxford Road, apartemen Jenny. Save. Aku mendesah pelan. Tercabik antara geli dan kesal.
lima menit kemudian, bus berhenti di Vauxhall Road, tempat apartemenku. akhirnya.. rumah.
"aku pulang...." desahku setelah membuka pintu.
"selamat datang."terdengar suara kakakku, Cheryl. Cheryl?? biasanya dia kerja hingga larut malam.
"Cheryl??"
"hm?"
"cheryyyyyyyylllll!!!!!" seruku senang, sembari memeluk Cheryl.
"eugh... Emma, lepaskan!! aku tidak bisa bernapas.... eughh..."
"kok pulang cepat?" aku melepaskan pelukanku.
"hmm.. tadi klienku datang pagi-pagi sekali, jadi transaksi bisa berjalan lancar dan cepat.." Cheryl mengangkat bahu."yah, and here i am, i'm home, my sweety little sister." katanya sambil mencubit pipiku yang chubby.
“Yes! Kubuatkan makan malam, ya, Cher?” tawarku.
“boleh banget! Mau masakin apa nih?”
“aku bakal masak chicken steak dan cheese burger, kesukaanmu! Tapi…”
“tapi apa? Beliin es krim dulu, ya? Oh, no!”
“nggak, lah.. tapinya… besok! Sekarang udah malas ke supermarket!”
Cheryl cemberut. Hahaha.. salahnya sendiri dia tidak memberitahuku tentang ini.
waaahh.... ternyata dibalik kekesalanku yang bertumpuk-tumpuk hari ini masih ada sedikit kebahagiaan. yah, walaupun mungkin ini kebahagiaan terakhir hari ini. hhh.. pasrah sajalah.
aku mencium bau tidak enak. "hei cher, kayaknya ada bau-bau gitu,"tanyaku pada Cheryl."bau apa, ya?"
"haa?? masak kamu nggak nyadar, Emm? kamu belum mandi!! sana!!"perintah Cheryl. Diikuti suara terbahak-bahak khas Cheryl.
Setelah melembar pandang kesal ke arah Cheryl, aku berjalan ke kamarku.
Kamarku kecil. Di kamarku ada ranjang (jelas, kan.) yang sekarang berseprai ungu muda dengan hiasan bunga aster plus bantal dan selimut, satu meja belajar super kecil, satu lemari yang kecil juga, satu rak buku dan boneka-bonekaku, dan di dinding bercat ungu itu ada jam dinding dan fotoku bersama ibu, ayah, dan Cheryl waktu aku masih kelas satu SD. Kutatap foto itu sejenak, mengingat masa lalu. Aku tersenyum pahit.
Aku melempar tas ke ranjang, membuka jaket, mengambil uang dari kantung celana jins-ku dan menaruhnya di laci meja belajar, mengambil handuk di tempat cucian, lalu berjalan ke kamar mandi.
Saat mandi, aku sangat menikmati siraman air hangat yang mengaliri tubuhku. Rasanya semua kekesalanku hari ini lenyap, terbawa oleh aliran air hangat.
Setelah mandi dan berpakaian, sisa malam itu kulalui dengan tenang.
besoknya....
"ggrrh!!!!"sungutnya."ngajarin yang bener, dong!"
"ini tuh, ya, aku udah jelasin sejelas-jelasnya!! kamu yang harus dengerin bener!" balasku.
"enak aja! Kamu yang nggak bakat jadi guru!!"
"biarin! ini juga kalau nggak di suruh Mrs. Henna, aku nggak mau ngajarin kamu!"
"yee, kok nyalahin. main marah aja.!"
"sssst!"
Pertengkaran kami tadi disambut oleh pandangan tajam Ms. Grace, penjaga perpustakaan. Aku kesal. Mrs. Henna, guru biologi, menyuruhku menjelaskan materi semester kemarin ke si Steve aneh itu! Bayangkan, coba, betapa kessaaaalllnya aku hari ini. Yaa.. resiko jadi murid kesayangan, sih.. tapi, tetap saja aku kesal setengah matii!
Aku mulai menjelaskan lagi dengan muka yang (sepertinya) marah. Steve diam, memandang bukunya, memandangku, memandang bukunya lagi, memandangku, memandang berkeliling perpustakaan, lalu memandang bukunya lagi selama 5 menit, sebelum dia bertanya, "woi, kalau laring itu dari mana?" tanyanya. "di buku nggak ada."
aku berdecak tak sabar."tadi aku udah bilang, kan?? makanya dengerin!"
"suara cempreng begitu didengerin.."gumamnya pelan.
"ukh! udah, ah! dilanjutin besok aja! aku ada ekskul jurnalistik!"
"Emm!"
aku berbalik, jengkel."apaan lagi??"
"eh,"kata Steve, kelihatannya penasaran."ngomong-ngomong ekskul, aku belum punya ekskul."
"ck," decakku tak sabar. dia ini bodoh atau gimana sih? "ya udah. masuk aja. gampang, 'kan?"
"iya, tapi.. emang ada ekskul apa di sekolah ini?"
"hh!”rutukku. bikin repot aja. ”di sini ada ekskul sepak bola, basket, seni, cheerleader, futbol, teknologi, dan jurnalistik. Kamu mau masuk yang mana?"
kulihat kening Steve mengernyit, berfikir. "aku ikut kamu aja, deh. itung-itung ada teman. boleh, 'kan?"
aku dan dia? teman? pasti dia sedang stress.
"jurnalistik? ikut? bener?" tanyaku, menanyakan kepastian.
Steve mengangguk. Aku melongo.
Apa aku nggak salah denger, ya? dia? ekskul jurnalistik? wah, pasti ngarang itu!!! Setidaknya dia pilih futbol, deh...
karena saking nggak percayanya, aku tidak sadar telah melongo lebih dari 2 menit. Dan akibatnya, adalah........................... jengjrengjreng......
"EMERALD GLORY DESTINY! KAMU MENGHALANGI ORANG LEWAT!!!!!!!"
Steve tertawa.
*****************
Di ekskul jurnalistik...
Dengan lesu aku bertanya ke Cordelia (ketua klub) apakah boleh nambah satu orang lagi di klub ini. Tentu saja boleh, karena kan anggota klub ini hanya lima belas orang, termasuk aku. Tapi aku masih sedikit berharap. Bisa saja kan Cordelia bilang 'nggak, udah penuh! udah enak sama klub yang sekarang!' semoga............. Dan kenyataannya...
Dia malah bersemangat dan berbinar-binar sambil berkata, "Emm?? Bener kan mau ada yang masuk ke klub ini?"
Masih lesu, aku bergumam, "Iya."
Cordelia berteriak girang. Membuat semua yang ada di ruangan menoleh.
"Siapa, Emm? Siapa?"
"Steve Robbins, dari kelasku."
"Oh my god! Steve? Bener nih?? Ya ampun gak nyangka bangettt,"
"Gak nyangka apa memangnya?"
"Ya ampun, Emm, makasih.. Dia sekarang di mana?"
"Di luar, tapi.." Belum aku selesai, dia langsung melesat dan dua detik kemudian aku sudah mendengar suara Cordelia yang super sweet cemprengnya menanyai Steve macam-macam. Aku berdecak kesal, lalu duduk dan merebahkan kepalaku di meja.
Ternyata, ada yang merhatiin aku, yaitu si- superrr game-mania Makery Gordon. Sama dengan kakaknya, Erick Gordon. Aku tahu dia merhatiin aku bukan cuman geer lho, tapi karena dia nanya “Emm, kenapa kok kelihatannya lesu.”
“Lagi bete aja,” jawabku sekenanya, tapi aku nggak bohong kok. Emang aku lagi bad mood!
“oh,” katanya. Cuma ‘oh’? bagus deh. Aku nggak perlu lagi ngomong yang aneh-aneh.
Sejurus kemudian, Cordelia kembali dengan wajah berbinar, dan ups, dia bersama si Steve menyebalkan itu. Ugh! Jadi makin bete...!
“oke!” teriak Cordelia. “listen to me, everyone! Klub ini punya satu pendatang baru, dan ini dia… STEVE ROBBINS!!!!” ya ampun, si Cordelia ini dramatis banget-banget-bangett deh. Dasar calon drama queen..
Yang di bikin dramatis sama Cordelia alias si Steve malah senyam senyum sendiri. Eh, bentar.. kayaknya dia lagi ngetawain seseorang deh, soalnya dia liat ke depan gitu deh. Kulihat arah pandangannya dan… hah? Dia ngetawain aku ternyata! Awas aja ya, ini anak satu kok nyebelin banget??
Setelah ba-bi-bu panjang dari cordelia, akhirnya kegiatan klub ini dimulai juga. Oh ya, di klub ini kita diberikan arahan untuk menulis, memoto, menggambar dan semaamnya oleh Miss Quinn, guru magang berusia 23 tahun. Ngomong-ngomong, ms. Quinn ini cantik banget lho…. Tapi sayang, dia sudah punya tunangan.. hehee. (aku bukan bigos lho, Cuma sering denger gossip temen temen aja. Eits, jangan think negative dulu!)
Aku nggak tahu gimana aku bias nyampe rumah dengan selamat dengan kondisi yang masi super duperr bete begini. Gara-gara si bete itu juga aku sampai dimarahin Cheryl karena nggak masak dinner yang kemarin sudah aku janjikan gara-gara lupa beli bahannya di supermarket. Dasar!
#to be continued#